Friday, November 03, 2006

Lien Ke II

Lien Ke II:

1. Selalu mempersalahkan Ahiang tidak memikirkan dia

2. Mama selalu menekan bahwa orang tua susah

3. Kasih uang jajan sangat ketat

4. Mama mengejar aku dengan rotan dan aku lari ke kolong ranjang

5. Harus seperti Leng Cua menghidupi adik adik

6. Ban San bisa menulis surat di dalam pesawat

7. Mama akrab dan ada hati menerima Aheng

8. Bilang sama mama Ji Long chi nka bo eng

9. Menyepak menyebat dan mempermainkan aku

10. Memukul aku pulang saat aku sedang bermain

11. Mama memarahi papa di belakang sampai papa meneteskan air mata

12. Mama sering mengeluh tidak punya uang

13. Kasih makan lo neng cuma 1/4

14. Phu to untuk Ke Ni

15. Beli Ovaltine, Kiam Pia dan Kekse susu

16. Sering mendapat Lao Hoi, Tao Pang kalau orang tunangan

17. Ingin sekali mendapatkan es yang ditawarkan tukang cakue

18. Telur ayam kampung untuk papa. Aku sangat menginginkannya namun kalau aku makan dimarahi

19. Mama tidur terlentang dan menarik roknya ke atas

20. Mencuci kain yang penuh dengan darah membuat aliran got sampai merah dan menggantungkan kainnya di gang (garasi)

21. Mama melarang aku bermain di luar rumah

22. Bilang sama Acim I Lien aku tidak mau makan daging

23. Mama duduk dengan wajah kosong dengan menopang Aheng

24. "Kua liau Ace sudah bo eng liau". Bicara dengan Aheng di gang berbatasan dengan ruang dalam terdengar olehku tanpa sengaja.

25. Sewaktu pergi ke rumah Ama kernek menyuruh mama ke luar dari mobil karena mama bayar kurang karena mama tidak menyuruh aku dan Aheng berdiri sehingga tidak mau bayar.

26. Pulang dari pasat ma (Hai Lam) mau naik sado mama menawar sangat lama dan menekan, menimbulkan perasaan didalam diriku aku ini harus sok (mengikat diri), menyiksa diri.

27. Pulang dari pasat ma mama marah-marah terhadap aku, tidak puas dengan diriku entah kenapa. Malamya mendengar pintu tertutup keras aku menangis. Tangisanku itu bukan karena aku takut tapi untuk mengharapkan perhatian dari mama.

28. Mau naik sepeda papa tidak boleh

29. Mama marah-marah dan benci sama huan na. Aku melihat A'i berbuat yang benar sedangkan perbuatan mama tidak benar lantas aku memprotes. Protesku tidak disukai oleh dia.

30. Mama A'Ong minum pil tidur mau bunuh diri. Mama mengejek sinis: "ke, ke nia"

31. Ayuk Ahim hamil. Mama bilang "an ncau bo ce sat si yo, sudah kau ha ni kuan liau, hidup ini seperti tidak ada harga bagi dia, mengerikan.

32. Mempersalahkan A'an dan adiknya Aho anak adik Mei Hua karena ibunya pelacur.

33. Mengatai Mei Hua mencuri minuman dari perkawinan orang tua Ming-Ming (Apui)

34. Selalu menekankan orang-tua susah dan selalu menekankan dirinya aufopfernd dan verantwortungsbewußt.

35. Memaki aku habis-habisan ketika aku mengambil air (panas) untuk ikan Ati (kakak A'Ong): "hua gong, hua siau", sangat verachtend.

36. Selalu mengatakan soi han eng tio mama, tua han tio tat sak khe mama. Timbul rasa takut sebagai anak.

37. Mama bilang sama A'mm ketika aku masih kecil tukang cah karena sering sakit dan tiam-tiam tong ti (tukang mengganggu). Hal ini membuat aku merasa takut dan merasa bersalah. Aku ada di kamar sedang berbaring.

38. "lui ha ni coi uan to lo lai", ketika melihat aku memiliki banyak uang dari orang yang panggil aku Akui.

39. Mama menyyuruh papa memukul aku karena dicap sebagai pengganggu ketika papa mengangkat tanah dengan ember yang tajam.

40. Ke rumah Abo sewaktu menjual Toto dekat rumah Akuang selalu mengeluh memberatkan aku

41. Mengejar aku ke loteng pakai rotan. Ternyata loteng juga bukan tempat yang aman sangat gampangdigapainya.

42. Mama perintah aku pergi beli barang di toko Yana dengan nada yang tidak menyenangkan/merendahkan membuat aku enggan untuk menuruti dia. Dia lalu memarahi dan mempersalahkan aku.

43. Setiap kali aku berbuat sesuatu, menghasilkan sesuatu selalu direndahkan oleh mama.

Bilang sama Acim I Lien aku tidak mau makan daging

12) Bilang sama Acim I Lien aku tidak mau makan daging

Bilang sama Acim I Lien aku tidak mau makan daging (bo ai cia ba) sangat pemilih. Saat itu ama (pasat ma) memberi aku makan dan aku makan sepotong daging bebek enak sekali rasanya tapi dikarenakan oleh mama yang mengatai aku tidak mau makan daging membuat aku tidak berani bilang 'ya' terhadap daging yang ditawarkan oleh pasat ma dan I Lien memandang aku dengan wajah yang membuat aku erasa tidak enak. Aku terpaksa makan sayur yang sesungguhnya tidak begitu aku sukai. Aku sangat mengarahkan diri pada kata-kata mama sebaba mama seorang diktatur. Kalau sesuatu dariku yang tidak sesuai dengan dia dari pengalaman-pengalamanku dulu dia tidak punya perasaan, tidak pernah mempertimbangkan bagaimana aku menderita, misalnya bila dia melapiaskan seluruh amarahnya terhadap diriku.

Mama melarang aku bermain di luar rumah

21) Mama melarang aku bermain di luar rumah

Mama melarang aku bermain di luar rumah sewenang-wenang memperlakukan diriku karena tidak pikir bagaimana mungkin aku seharian hanya di dalam rumah saja. Aku jadi takut kalau ingin pergi bermain namun seharian di dalam rumah terus juga tidak bisa. Diam-diam aku sering perlahan-lahan membuka pintu rumah dan pergi bermain.

Saat aku dipukul pulang dan berada di ruang tengah aku merasa (memandang) ke arah pintu terus dengan impian bisa ke luar dari rumah dan bermain di luar bersama anak-anak yang lain. Tapi aku takut kalau ke luar pasti ketahuan oleh mama nanti kalau aku pulang akan kena sebatan rotan apalagi dia terus m,engontrol diriku melalui jendela.

Mama tidur terlentang dan menarik roknya ke atas

19) Mama tidur terlentang dan menarik roknya ke atas

· Mama tidur dengan mengangkat roknya sampai lekukan cibainya terlihat dan papa dengan senyum menutupinya.

· Sewaktu Ming Gu ada di ruang tengah mama keluar dari kamar mengangkat roknya sampai kelihatan celana dalamnya yang berwaarna merah. Aku merasa malu dan merasa sangat tidak pantas mama berbuat begitu (primitiv, sehingga membuat aku malu punya seorang mama yang demikian).

· Sering kali mama duduk di lantai dengan posisi yang tidak pantas, roknya terangkat tidak menutupi tubuh bagian bawahnya dengan baik sehingga terlihat celana dalamnya menimbulkan perasaan yang sangat tidak menyenangkan, tidak pas pada diriku. Pernah aku berusaha supayya dia menyadari kesalahannya dengan menghidupkan perhatiannya dengan cara bergurau menunjuk pada celana dalamnya supaya ditutup dengan roknya, supaya sopan dan punya wibawa sebagai mana layaknya seorang mama. Namun mama bilang 'hiau'. Dilihat oleh papa aku takut dibilang kecil-kecil sudah getek.

Ingin sekali mendapatkan es yang ditawarkan tukang cakue

17) Ingin sekali mendapatkan es yang ditawarkan tukang cakue
· Aku ingin sekali mendapatkan es yang ditawarkan tukang cakue yang tinggalnya di depan rumah Herjanto, mama Asan. Mama Asan melihat kami datang segera membuatkan es yang sangat aku sukai, tapi mama bersikeras menghalau tidak mau dengan dalil phai se. Sedangkan aku sangat mengharapkan bisa mendapatkan es yang dibuat mama Asan itu namun mama bersikeras menghalau. Mama tidak mempertimbangkan kebutuhanku, seakan aku ini tidak punya kebutuhan, keinginan atau perasaan. Aku ini seperti tidak ada.
· Phai se itu apa. Apa gunanya phai se itu kalau harus dibayar dengan kebahagianku, dengan luka-luka batinku yang membuat aku menderita seumur hidup. Apakah phai se itu wert, apalagi orang yang mau kasih berbuat dengan gembira dan memang mau memberi. Yang jelas pemenuhan kebutuhan jauh lebih penting dari pada sekedar basa-basi yang tidak berguna.
Erstelldatum 03/10/00 16:46

Sering mendapat Lao Hoi, Tao Pang kalau orang tunangan

16) Sering mendapat Lao Hoi, Tao Pang kalau orang tunangan
· Kalau orang tunangan dan mau kawin sering kami dikasih Lao Hoi dan Tao Pang. Aku suka sekali makan Lao Hoi dan Tao Pang, terutama Tao Pang. Lao Hoi aku mendapat separuh, tapi cukup memuaskan walau cuma separuh karena cukup besar tidak seperti 1/4 telur yang jelas-jelas kurang untuk sepiring nasi. Namun aku sering kena marah kalau mau makan tau pang karena aku selalu mau mengambil banyak. Mau dikasih mama 1/2 tapi aku ambil satu. Aku gembira sekali dengan bungkusan yang merah dan rasa yang juga enak. Namun mama tetap mengocehi diriku melihat aku menginginkan lebih dari yang ingin dia berikan:
"Ace cin tiong cia, cin tiong ham",
"co kin na ha ni kuan phai kuan",
"u tam po meng nkia tio kio cia-cia liau, boi hiu kong e siu meng nkia",
"co kin na ha ni kuan phai kuan".
"Ace siong tiong, siong tiong ham le".

Erstelldatum 03/10/00 16:41

Beli Ovaltine, Kiam Pia dan Kekse susu

15) Beli Ovaltine, Kiam Pia dan Kekse susu
· Mama sering menyumpahi aku dan memaki aku bahwa Ovaltine dan Kekse susu yang dia atau papa beli untuk keperluan dia sehabis melahirkan (gelai) aku makan habis. Dia marah besar terhadap diriku:
"lau bu a be nkua tio, tio cia kau liau",
"co kin na ha ni kuan m'm pat tu tuo",
"bo kong nsiu tio lau bu, ge lang tang cia",
"a be nkua tio le, tio ta wa khiu cia kau liau-liau".
Caci-makinya membuat aku merasa bersalah karena menghabiskan makanannya untuk keperluan gelainya, sebab gelai dia memerlukan makanan yang lebih enak dan lebih sehat namun aku menghabiskannya. Aku merasa bersalah, terasa perih perasaanku karena kasihan sama mama, gelai tidak dapat makanan yang enak. Beli sekaleng Kekse susu yang enak hampir aku habiskan dan Ovaltine aku minum hampir habis. Aku merasa keluargaku begitu miskin, hanya mampu membeli sekaleng ovaltine dan sekaleng nti kiam piau atau sekaleng kekse susu dan kalau itu habis maka tidak ada lagi.
Erstelldatum 03/10/00 15:14

Phu to untuk Ke Ni

14) Phu to untuk Ke Ni
· Papa kadang-kadang membawa phu to pulang yang dikasih Ako atau Acim yang di pasar. Kalau tidak dikasih biasanya mama membelinya untuk keperluan Ke Ni. Aku gembira sekali melihat makanan kaleng yang ada di lemari makan, biasanya diletakan di bagian bawah. Aku merasa gembira kalau membuka laci kecil dan melihat phu to untuk dimakan pada Ke Ni saat tua cia nanti.
· Mama kalau buka phu to hanya satu kaleng dan itu dibagi banyak orang 4-5 orang, tentu seorang hanya dapat sedikit. Aku sangat suka makanan kaleng itu. Bagiku merupakan makanan istimewa dan mahal karena dari Tingkok dan hanya ada setahun sekali. Karena jarang hanya ada setahun sekali dan sangat kusukai serta jumlah yang aku dapat cuma sedikit, jadi kalau bisa mendapat lebih banyak sedikit saja sudah bagus sekali. Kami bertiga mendapat bagian yang sama rata, tentu aku kurang puas karena aku yang paling besar mendapat bagian yang sama dengan yang kecil sehingga aku ingin lebih dan berusaha untuk mendapatkan lebih. Mama menjadi marah dan menyumpahi diriku dengan caci-maki yang sangat merendahkan diriku:
" Ace cin tiong cia, tiong ham",
"cin tong nsi nsi",
"co kin na em pat tu tio, ha ni kuan tiong cia".
Mama mencaci maki aku dan menyumpahi aku sedemikian rupa sampai rasa gembiraku untuk makan lenyap, karena caci-makinya sangat menghina diriku dan sangat merendahkan martabatku serta sikapnya kasar dan sangat tidak bersahabat. Segelas phu to yang aku perjuangkan setengah mati seperti tidak ada gunanya tiba-tiba. Rasa gembira untuk makan lenyap karena mama sedemikian melukai perasaanku dengan caci-makiannya:
"Ace cin tiong cia, tiong ham",
"co kin na ha ni kuan em pat tu tio",
"ha ni kuan iau",
"tua kho lo ha ni kuan m'mm cin nciu",
"ha ni kuan tiong ham",
"ha ni kuan tiong cia".
Selain menghancurkan rasa gembiraku, caci-maki mama yang sangat menghina dan melukai perasaanku membuat aku merasa makan merupakan sesuatu hal yang memalukan karena 'tiong cia', 'tiong ham' nadanya sebegitu merendahkan diriku dan membuat aku malu. Bagi aku dulu pengen makan (kalau melihat makanan yang membuat aku ngiler) merupakan hal yang memalukan.
· Setiap tahun aku selau mendapat caci-maki dari mama yang sangat merendahkan martabatku. Setiap kali kalau membagikan pu to atau Leh Chi untuk aku/kami, aku selalu kena caci-makinya. Mama memaki aku dengan sangat menghina dan merendahkan martabatku:
"Ace cin tiong cia, tiong ham",
"co kin na em pat tu tio, ha ni khuan iau",
"ha ni khuan tiong ham",
"ha ni kuan tua han lo, lang kong e phai se",
"ha ni tau nchiu, ha ni kuan m'mm chin ciu, em pat tu tio e".
"Ace cin tiong ham, ha ni kuan em'm chin chiu"
"ha ni kuan tiong ham",
"ha ni kuan tiong cia",
"co kin na ha ni kuan phai kuan",
"ha ni kuan iau".

Erstelldatum 03/10/00 14:47

Kasih makan lo neng cuma 1/4

13) Kasih makan lo neng cuma 1/4
· Aku sangat suka makan Lo Neng namun aku/kami hanya dikasih 1/4 bagian. Jelas terlalu sedkit. Susah sekali mau makan 1/4 terlalu sedikit karena kalau mau merasakan telurnya saja 2-3 sendok nasi bersama telur itu sudah habis mana mungkin bisa cukup untuk sepiring nasi. Mama itu sungguh tidak punya otak, tidak pikir bahwa itu terlalu sedikit dan tidak cukup untuk kami sedangkan kami sangat suka makan Lo Neng apa salahnya kalau kasih kami makan lebih banyak sedikit. Dia mungkin hanya membawa pengalamannya dulu sewaktu masih kanak-kanak karena kalau kami mengambil seorang separoh atau sebiji aku yakin tidak akan membahayakan ekonomi keluarga. Kalau kami sakit ke dokter akan lebih mahal lagi sebab kami juga perlu gizi yang cukup. Daging gemuk yang berminyak aku tidak suka jadi aku hanya bisa makan Lo Neng-nya saja dan itu hanya 1/4. Karena terlalu sedikit makanpun jadi tidak menyenangkan.
Erstelldatum 03/10/00 16:22

Mama sering mengeluh tidak punya uang

12) Mama sering mengeluh tidak punya uang
· Mama di rumah sering mengeluh tidak punya uang, sampai mama sering memarahi papa karena penghasilan yang kurang dan juga pernah lama tidak punya kerjaan. Keluhan-keluhan mama membuat aku merasa seakan aku harus menghasilkan uang untuk meringankan keluarga. Karena keluhan-keluhan mama yang selalu kekurangan uang itu membuat aku merasa sakit saat melihat mama kasih Ahiang uang setumpuk untuk membayar uang sekolah.
Erstelldatum 03/08/00 18:52

Mama memarahi papa di belakang sampai papa meneteskan air mata

11) Mama memarahi papa di belakang sampai papa meneteskan air mata
· Di belakang rumah, di dapur mama terus memarahi papa sampai papa meneteskan air mata. Aku tidak tahu menahu permasalahannya dan sangkaanku papa yang bersalah. Aku menambahkan dengan kata "yo lah", "yo lah". Papa jadi semakin sedih. Mama terus memarahi papa sampai papa meneteskan air mata.
· Saat berkunjung ke rumah pasat ma aku mendengar I Lien bilang sama mama. Dia bilang bahwa papa bercerita mama selalu memarahi papa. I Lien bilang tidak boleh selalu memarahi papa. Mendengar kata-kata I Lien itu baru tersadarkan olehku bahwa papa ternyata tidaklah bersalah namun merupakan korban dari sifat mama yang memang suka marah dan perbuatan mama itu yang salah. Aku merasa berdosa terhadap papa karena telah mendukung / memihak mama dan membenarkan pebuatan mama saat mama memarahi papa di belakang dekat meja makan sampai papa menangis. Aku merasa bersalah dan menderita rasa bersalah yang hebat.
Erstelldatum 03/08/00 18:42

Memukul aku pulang saat aku sedang bermain.doc

10a) Memukul aku pulang saat aku sedang bermain di belakang rumah
· Aku sedang bermain di belakang dengan Aseng, Ati, Seng Huat. Mama tiba-tiba muncul dengan membawa rotan. Aku segera berhenti bermain. Aku takut disebat oleh rotannya karena perih dan sakit. Aku berlari pulang. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku di rumah. Sampai di rumah aku hanya di suruh duduk di dalam dan tunggu di belakang tanpa menjelaskan pada diriku untuk apa. Dia berlaku sewenang-wenang atas diriku. Aku duduk di dalam dan ingin sekali keluar bermain bersama anak-anak belakang. Ingin bermain, ingin merasakan gembira. Namun mama mengawasi aku dengan ketat sambil bekerja. Aku sebenarnya ingin sekali lari keluar dan pergi bermain tapi kalau sampai ketahuan oleh dia bisa berbahaya. Dia mengawasi aku dari jendela. Aku tersiksa sekali di dalam sebab aku hanya disuruh duduk di situ saja sedangkan teman-teman bermain dengan gembira di luar. Aku merasa tersiksa sekali.


10b) Memukul aku pulang untuk ayun adik/Aheng
· Disaat yang lain aku pernah dikejar pulang saat aku sedang bermain di belakang untuk mengayun adik. Di dalam kamar, sambil mengayun adik aku menderita sekali sebab kebutuhanku untuk bermain ditekan oleh dia. Dia kejam dan sadis tidak mempertimbangkan perasaanku dan kebutuhanku sebagai seorang anak.



10c) Aku merasa tidak boleh bermain tapi mengapa Aheng boleh
· Mama sering memukul aku pulang kalau aku bermain sehingga terekam di dalam diriku aku tidak boleh bermain karena dilarang oleh mama karena dia akan menyebat aku dengan rotan kalau aku main kejar-kejaran. Saat anak-anak belakang bermain aku jadi tidak berani ikut. Aku merasa takut melanggar ketentuan yang digariskan oleh mama. Namun aku melihat Aheng ikut bermain dengan bebas tidak merasakan larangan dari mama dan tidak ada perasaan takut bakalan dimarahi atau disebat oleh mama. Aku kemudian memanggil Aheng untuk stop jangan bermain karena mama nanti akan marah dan tentu saja Aheng memberontak dan merasa tidak senang. Aku juga merasa sakit Aheng boleh bermain bebas namun aku tidak. Mengapa, aku tidak tahu. Mengapa mama hanya melarang aku namun tidak melarang Aheng.
Erstelldatum 03/08/00 18:18

Menyepak, menyebat dan mempermainkan aku di ruang depan

9) Menyepak, menyebat dan mempermainkan aku di ruang depan
· Aku memprotes mama karena sikapnya yang sering mau memukul aku dan sangat tidak pantas sebagai seorang mama. Aku memprotes karena merasa disakiti olehnya. Karena melihat dia mengambil rotan aku memprotes dengan memarahi dia lagi. Dia dengan wajah yang ketawa datang mempermainkan aku. Dia mengejar aku sampai ke depan dan aku terkejar oleh dia. Di luar banyak orang dan aku tidak berani keluar karena malu dilihat orang bahwa aku kena pukul. Di depan dia menyebat aku. Aku merasa malu sekali dilihat orang banyak dari luar. Aku berusaha menghalaunya dengan berusaha merebut rotan dari tangannya, tapi tenaganya terlalu kuat bagiku seorang anak kecil. Aku didorong, disebat ke arah kaki, dipermainkan. Ketawanya itu menunjukan dia menjadikan aku barang mainannya karena dia tahu tenaganya jauh lebih besar dibanding tenagaku. Dia tidak mempertimbangkan aku bisa malu dipukul di depan orang banyak.
Erstelldatum 03/08/00 17:59

Bilang sama mama Ji Long: "chi nka bo eng"

8) Bilang sama mama Ji Long: "chi nka bo eng"
· Awalnya mama berbicara pada dirinya sendiri: "co lau bu lai chi nka". Aku yang ada di dekatnya tidak mengerti apa yang dia maksud. Reaksinya juga tidak puas sambil berkata demikian: "co lau bu lai chi nka". Dia tidak memperdulikan diriku yang memandang dia dengan perasaan tidak mengerti dan ingin tahu maksudnya apa, sebab aku sangat memerlukan mama sedangkan reaksinya tidak puas dengan kata-katanya 'co lau bu lai chi nka'. Aku kann anaknya. Aku merasa khawatir dia merasa tidak puas dengan diriku, apa salahku.
· Kebetulan mama Ji Long juga ada di depan dan dia berkata kepada mama Ji Long:
"chi nka bo eng yo M'mm", aku merasa heran dengan kata-katanya.
Mama Ji Long menegaskan: "mana u eng la !"
Aku menjadi takut mama jadi benci dan mempersalahkan aku karena merasa chi nka itu bo eng. Aku takut dipikirannya aku ini nanti sudah besar juga akan bo eng. Aku jadi takut dia mempersalahkan aku dan mencap aku bo eng sehingga tidak menginginkan diriku lagi, tidak memperdulikan diriku sampai memusuhi diriku. Aku memanggil dia untuk mendapatkan kepastian dari dia, tapi panggilanku tidak digubris. Diriku seperti tidak ada bagi dia, sama sekali tidak terhitung oleh dia. Pancaran wajahnya menunjukan perasaan yang tidak puas.
Erstelldatum 03/08/00 17:46

Mama akrab dan ada hati menerima Aheng

7) Mama akrab dan ada hati menerima Aheng
· Sering kali aku melihat kalau mama mencuci baju membawa Aheng di sampingnya. Kalau menyuruh aku ikut di sampingnya menunggu dia mencuci pakaian aku tidak betah karena membosankan. Yang herannya Aheng betah. Mungkin suasana yang dialami Aheng berbeda dengan yang aku alami. Mama punya rasa keakraban dengan Aheng sedangkan sikap mama terhadap diriku kasar dan tidak ada rasa akrab. Mama ada menunjukan perhatiannya pada Aheng sehingga Aheng pun betah dekat dengan dia. Lain dengan diriku yang sering dipandang dengan rasa tidak suka, diperlakukan dengan kasar, selalu dicap phai si (jahat) dan selalu mendapat bentakan-bentakan kasar.
· Aku melihat dari jauh keakraban antara Aheng dan mama membuat aku merasa diriku kotor, jahat dan jelek, punya sifat yang buruk karena aku merasa tidak diinginkan, sampai aku merasa tidak cukup berharga untuk mendekati mereka. Aku sering mau memukul Aheng karena merasa dia telah merebut cinta mama dari diriku. Kalau aku mau memukul Aheng dia selalu lari mencari perlindungan dari mama, lantas mama akan memarahi aku, mencap aku jahat dan jelek.
· Dulu sering timbul pertanyan didalam diriku. Mengapa diriku selalu tidak disukai. Mengapa diriku selalu salah. Mengapa mama lebih menerima Aheng dari pada diriku. Boleh dibilang jauh sekali bedanya perlakuan dia terhadap Aheng dengan perlakuannya terhadap diriku. Mama menerima Aheng ada dengan ada hati. Penerimaannya pada Aheng berasal dari keinginannya sendiri dan sikapnya juga lembut terhadap Aheng. Sedangkan sikap mama terhadap diriku kasar, diriku diperlakukan seperti pengemis, seperti sampah, sehingga aku merasa diriku tidak bernilai, jelek dan kotor sesuai dengan pandangannya atau perlakuannya terhadap diriku. Karena merasa iri terhadap Aheng yang selalu mendapatkan penerimaan dari mama membuat aku merasa diriku ini jahat, busuk hati dan buruk. Tapi herannya apapun yang kulakukan untuk memperbaiki diriku, aku ini tetap tidak pernah benar bagi mama. Dia tidak pernah merasa puas dan gembira dengan diriku. Apapun usahaku sikapnya terhadap diriku tetap negativ dan jelek.
Erstelldatum 03/08/00 16:22

Ban San bisa menulis surat di dalam pesawat aku menulis surat yang didiktekan saja tidak bisa

6) Ban San bisa menulis surat di dalam pesawat aku menulis surat yang didiktekan saja tidak bisa
· Aku merasa bersalah terhadap papa yang meminta aku menuliskn surat untuk Titi namun aku tunda begitu lama. Biasanya papa memnta tukang las yang menulis, tapi dianjurkan oleh mama yang ehrgeizig supaya aku yagn menulis karena dia menganggap aku telah mampu menulis surat. Aku sebelumnya sudah pernah menuliskan surat yang didiktekan oleh papa tapi aku merasa surat yang aku tulis terlalu kecil (kertas ABC kecil) dan terlalu pendek, serta tulisanku terlalu kecil. Kekurangan-kekurangan yang aku rasakan pada suratku membuat aku enggan untuk menulis lagi, apalagi yang membacanya Titi yang sekolah di Jerman. Karena sudah lama diminta namun aku tunda terus dan bilang: "tan la, tan la", membuat papa mengatakan sudah lama surat Titi belum dibalas juga nanti tidak enak jadinya. Beberapa kalai diminta akhirnya aku menulis juga.
· Mama yang mendengar bahwa sudah lama surat Titi tidak dibalas, walau aku sudah mulai menulis dia merasa tidak puas juga dan memarahi diriku:
"Ban San ce pe ki teng pun e hiau sia phoi masa papa tale kio le sia, boi hiau. Co kin na ha ni kuan gong". Kata-kata mama itu verwirrt diriku yang masih kecil. Dia tidak memikirkan bahwa aku masih anak kecil sedangkan Ban San itu orang dewasa, seorang mahasiwa yang sekolah di Jerman. Mama itu sungguh primitiv, ambisinya sangat besar namun tidak pernah memikirkan bahwa aku masih anak kecil. Saking ambisinya dia tidak memikirkan bahwa aku ini anak kecil dan Ban San orang dewasa. Yang penting ambisinya terpenuhi auf alle Kosten. Apa yang menimpa diriku itu dia tidak peduli. Yang dia tertarik adalah hasil yang bisa aku bawa/tunjukan.
Erstelldatum 03/08/00 10:55

Harus seperti Leng Cua menghidupi adik-adik

5) Harus seperti Leng Cua menghidupi adik-adik
· Mama memarahi aku di depan rumah karena mengganggu Aheng. Sikapku mengganggu Aheng sebenarnya sebagai reaksi untuk mendapatkan perhatian. Aku memerlukan perhatian dari mama. Aku butuh kasih-sayang dari mama. Mama memarahi aku:
"cia kau ha ni kuan tua kho lo te le tong ti sio ti",
"ha ni kuan bo eng, u ia",
"u ia cim bo eng",
"le kua Leng Cua, lau pe shi e hiau than cia lai chi sio ti"
"le kua he ge co bi hun e masih (juga) e hia than chi sio ti, sio be".
Kecaman-kecaman mama terhadap diriku dengan mengambil contoh Leng Cua dan tukang Bi hun sebagai pihak yang baik dan aku sebagai pihak yang jelek membuat aku merasa bersalah. Sekilas seakan yang dikatakannya itu benar tapi sesungguhnya perbuatan yang biadab. Diriku diperlakukan seperti orang dewasa dengan meletakan beban begitu berat dipundakku. Tapi saat itu aku masih kecil aku tidak mengerti itu suatu pebuatan yang merusak jiwa seorang anak yang dilakukan oleh mamanya sendiri terhadap anak itu. Suatu perbuatan yang kotor dan jahat. Sebagai anak kecil dimarahi begitu aku merasa diriku yang bersalah dan menghukum diriku sendiri. Aku merasa diriku tidak berguna, tidak produktiv. Aku merasa diriku yang jeleklah makanya aku selalu disalahkan dan tidak disukai. Maka supaya aku diterima aku harus seperti orang-orang dewasa yang sukses dan baik: mencari uang menghidupi adik-adik dan meringankan orang-tua dan menggantikan fungsi papa walau aku sendiri masih anak kecil. Diriku diperas untuk berbuat demikian supaya dibilang baik.
· Aku berusaha sekuat tenaga supaya diriku diterima oleh mama. Aku berkata dalam diriku bahwa aku harus kuat. Aku harus peras diriku untuk menjadi seperti Leng Cua dan tukang Bi Hun. Tapi kenyataannya aku tidak mampu dan merasakan ketidakberhasilanku sebagai kegagalanku, kelemahanku dan kekurangaku. Jadi merupakan kesalahanku sendiri. Aku jadi sering dihantui rasa takut kalau papa mungkin suatu saat mati, maka aku harus sudah siap untuk menjadi kepala keluarga. Harus sudah bisa siap mencari uang menghidupi keluarga: mama dan adik-adik. Beban yang diletakkan mama diatas pundakku itu sangat besar. Yang mama interessiert itu cuma aku bisa atau mampu seperti Leng Cua atau tukang Bi Hun tapi auf alle Kosten. Dia sama sekali tidak memikirkan bahwa aku masih anak kecil dan memerlukan kasih-sayangnya. Apa yang terjadi padaku dan apa yang akan menimpa diriku dia tidak peduli.
Erstelldatum 03/08/00 10:29

Mama mengejar aku dengan rotan dan aku lari ke kolong ranjang

4) Mama mengejar aku dengan rotan dan aku lari ke kolong ranjang
· Mama megejar aku dengan rotan. Aku takut kena sebatan rotannya karena sakit sekali dan juga membuat aku takut (teror psikis). Aku berusaha menyelamatkan diri dengan lari bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Tapi mama tahu pasti di mana aku bersembunyi dengan mudah diriku didapatinya. Dia menarik bakut yang menjadi pelindung bagiku dan menyebat aku. Dia merasa menang dan puas bisa menjadikan aku mainannya dan membuat aku tidak berdaya.
· Beberapa kali aku berlari bersembunyai di kolong tempat tidur dan selalu ketahuan oleh dia. Ternyata tempat itu bukanlah tempat yang aman untuk bersembunyi. Namun di rumah tidak ada tempat lain lagi bagiku untuk bisa bersembunyi untuk melindungi diri dari kejaran dan pukulan mama. Di garasi mobil tidak bisa, di kamar mandi tidak bisa, di loteng juga tidak, kecuali diluarnya tapi sangat kotor dan tidak mungkin bagiku untuk bisa bertahan lama di sana, penuh dengan tahi kelelawar dan sarang laba-laba dan debu yang tebal.
Erstelldatum 03/07/00 17:38

Kasih uang jajan sangat ketat/pas

3) Kasih uang jajan sangat ketat/pas
· Karena uang jajan yang sedikit mau membeli gula karet yang bisa dapat hadiah yang bagus-bagus tidak berani. Takut kalau beli gula karet berhadiah yang seperti Lotterie tidak kena dan hanya dapat sekeping tipis gula karet biasa. Lotterie itu cukup mahal bagiku untuk hanya mendapat gula karet biasa /sekeping tipis sebagai hadiah. Sebenarnya aku merasa minder. Aku merasa di atas jangkauanku untuk membeli barang mewah seperti itu, terlalau mahal bagiku. Mereka yang duduk di sana dapat jajan dengan bebas karena mereka banyak uangnya. Dari situ aku merasa diriku dibawah mereka. Dari semuanya aku merasa akulah yang paling bawah, yang paling tidak punya, aku ini miskin (anak orang miskin, berasal dari keluarga miskin, keluarga yang tidak mampu).
· Disiang hari yang panas mau minum es (minuman Sprit palsu yang murah) yang dicampur dengan batu es yang dipecahkan. Uang jajanku hanya cukup untuk minum es dua kali dengan dua kali keluar main dan aku tidak bisa beli apa-apa lagi selain dua gelas minuman untuk menghilangkan haus. Di rumah disarankan oleh mama untuk menabung lagi. Aku ingin sekali menabung tapi tidak punya uang untuk menabung dan yang tinggal adalah rasa frustasi. Mau jajan tidak bisa kecuali hanya untuk beli minuman saja, mau menabung karena sering ditekankan sebagai kebiasaan yang baik juga tidak bisa karena tidak ada uang. Mama itu buta tidak melihat berapa banyak uang yang diberikannya padaku. Apakah aku bisa menabung dengan uang yang diberikannya padaku atau tidak.
· Aku suka makan di tempat Bi Minah yang letaknya agak jauh dari tempat sekolah SD Dwi Dharma). Yusuf, Cin Yang dan Abdullah juga sering makan di sana. Tampaknya mereka memiliki uang jauh lebih banyak dan dapat jajan dengan leluasa. Mereka makan lebih bebas, lebih banyak macam dan lebih leluasa, sedangkan uangku terbatas sekali. Mau jajan dengan leluasa susah sekali. Tidak bisa bebas dan tidak bisa jajan dengan enak.
Erstelldatum 03/07/00 17:22

Mama selalu menekan bahwa orang tua susah

2) Mama selalu menekan bahwa orang tua susah
· Mama selalu menekan bahwa orang tua susah dan selalu menekankan papa bekerja keras berdiri sepanjang hari. Mama selalu mengeluh papa harus dengan bekerja berdiri sepanjang hari seakan papa menderita sekali karena pekerjaan papa itu. Keluhan-keluhan mama aku rasakan menusuk-nusuk perasaan dan jiwaku membuat aku merasa menderita/susah, membuat kau merasa bersalah dan berdosa kalau bahagia karena orang-tua menderita jadi aku merasa berdosa kalau aku bahagia dan gembira. Aku merasa masakan aku bersenang-senang sedangkan orang-tua susah dan menderita. Keluhan-keluhan mama itu seperti racun yang meresap kedalam jiwaku. Keluhan-keluhan mama membuat aku merasa punya kewajiban mengubah situasi rumah supaya papa tidak perlu bekerja keras lagi, supaya papa tidak perlu menderita lagi. Tapi aku terlalu kecil untuk dapat mengubah situasi rumah dan kerjaan papa. Aku ingin supaya papa tidak harus bekerja lagi dan menikmati hidupnya dan aku yang mencari uang untuk menghidupi keluarga. Aku merasa berdosa terhadap diri papa yang berdiri sepanjang hari di tempat kerja.
· Keluhan-keluhan mama merupakan beban berat bagiku karena aku anak yang paling besar berkewajiban meringankan keluarga. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku harus meringankan keluarga karena dengan bekerjapun aku tidak akan dapat menggantikan peran papa/penghasilan papa. Yang muncul dalam diriku adalah perasaan berdosa dan bersalah kalau bahagia dan gembira, seperti aku ini tidak boleh menikmati hidup karena orang-tua susah.
Erstelldatum 03/07/00 16:50

Selalu mempersalahkan Ahiang tidak memikirkan dia

1. Selalu mempersalahkan Ahiang tidak memikirkan dia
· Mama selalu mempersalahkan Ahiang denga muka yang sangat benci mengatakan: "Ahiang siong bo eng, em pat nsiu tio lau bu, em pat nsiu tio lau bu kan kho, co ca bo ki na siong bo eng". Setiap kali aku mendengar diri Ahiang diasalahkan jiwaku seperti tertusuk-tusuk. Ahiang ada di tempat nenek, jauh dari dia, salah apa Ahiang terhadap dia karena Ahiang tidak tahu apa-apa tentang dia. Mengapa mama selalu mempersalahkan Ahiang yang tidak tahu apa-apa tentang dia. Mempersalahkan Ahiang tidak memikirkan dia. Mengapa Ahiang harus terus memikirkan dia. Ahiang masih anak-anak /Jegendliche bukan seorang dewasa yang dapat menjadi sanggahan bagi dia. Mengapa selalu mempersalahkan Ahiang tidak memikirkan dia sedangkan dia sendiri berbuat untuk Ahiang tidak pernah. Padahal dia adalah seorang mama, orang tua dari Ahiang. Ahiang kalau minta uang sekolah dimarahi, dicerca dan dihina. Dicerca dan dihina sedemikian rupa sampai Ahiang sering menangis. Padahal Ahiang tidak salah apa-apa dan dia dia memerlukan uang untuk membayar uang sekolah. Ahiang kan anak dia sendiri.
· Ketika Ahiang datang dan tidak tahu menahu akan sikap mama terhadap dia. Aku yang tahu menjadi seperti punya jarak dengan Ahiang.
Erstelldatum 03/03/00 16:09