Friday, November 03, 2006

Phu to untuk Ke Ni

14) Phu to untuk Ke Ni
· Papa kadang-kadang membawa phu to pulang yang dikasih Ako atau Acim yang di pasar. Kalau tidak dikasih biasanya mama membelinya untuk keperluan Ke Ni. Aku gembira sekali melihat makanan kaleng yang ada di lemari makan, biasanya diletakan di bagian bawah. Aku merasa gembira kalau membuka laci kecil dan melihat phu to untuk dimakan pada Ke Ni saat tua cia nanti.
· Mama kalau buka phu to hanya satu kaleng dan itu dibagi banyak orang 4-5 orang, tentu seorang hanya dapat sedikit. Aku sangat suka makanan kaleng itu. Bagiku merupakan makanan istimewa dan mahal karena dari Tingkok dan hanya ada setahun sekali. Karena jarang hanya ada setahun sekali dan sangat kusukai serta jumlah yang aku dapat cuma sedikit, jadi kalau bisa mendapat lebih banyak sedikit saja sudah bagus sekali. Kami bertiga mendapat bagian yang sama rata, tentu aku kurang puas karena aku yang paling besar mendapat bagian yang sama dengan yang kecil sehingga aku ingin lebih dan berusaha untuk mendapatkan lebih. Mama menjadi marah dan menyumpahi diriku dengan caci-maki yang sangat merendahkan diriku:
" Ace cin tiong cia, tiong ham",
"cin tong nsi nsi",
"co kin na em pat tu tio, ha ni kuan tiong cia".
Mama mencaci maki aku dan menyumpahi aku sedemikian rupa sampai rasa gembiraku untuk makan lenyap, karena caci-makinya sangat menghina diriku dan sangat merendahkan martabatku serta sikapnya kasar dan sangat tidak bersahabat. Segelas phu to yang aku perjuangkan setengah mati seperti tidak ada gunanya tiba-tiba. Rasa gembira untuk makan lenyap karena mama sedemikian melukai perasaanku dengan caci-makiannya:
"Ace cin tiong cia, tiong ham",
"co kin na ha ni kuan em pat tu tio",
"ha ni kuan iau",
"tua kho lo ha ni kuan m'mm cin nciu",
"ha ni kuan tiong ham",
"ha ni kuan tiong cia".
Selain menghancurkan rasa gembiraku, caci-maki mama yang sangat menghina dan melukai perasaanku membuat aku merasa makan merupakan sesuatu hal yang memalukan karena 'tiong cia', 'tiong ham' nadanya sebegitu merendahkan diriku dan membuat aku malu. Bagi aku dulu pengen makan (kalau melihat makanan yang membuat aku ngiler) merupakan hal yang memalukan.
· Setiap tahun aku selau mendapat caci-maki dari mama yang sangat merendahkan martabatku. Setiap kali kalau membagikan pu to atau Leh Chi untuk aku/kami, aku selalu kena caci-makinya. Mama memaki aku dengan sangat menghina dan merendahkan martabatku:
"Ace cin tiong cia, tiong ham",
"co kin na em pat tu tio, ha ni khuan iau",
"ha ni khuan tiong ham",
"ha ni kuan tua han lo, lang kong e phai se",
"ha ni tau nchiu, ha ni kuan m'mm chin ciu, em pat tu tio e".
"Ace cin tiong ham, ha ni kuan em'm chin chiu"
"ha ni kuan tiong ham",
"ha ni kuan tiong cia",
"co kin na ha ni kuan phai kuan",
"ha ni kuan iau".

Erstelldatum 03/10/00 14:47

0 Comments:

Post a Comment

<< Home