Friday, November 03, 2006

Ban San bisa menulis surat di dalam pesawat aku menulis surat yang didiktekan saja tidak bisa

6) Ban San bisa menulis surat di dalam pesawat aku menulis surat yang didiktekan saja tidak bisa
· Aku merasa bersalah terhadap papa yang meminta aku menuliskn surat untuk Titi namun aku tunda begitu lama. Biasanya papa memnta tukang las yang menulis, tapi dianjurkan oleh mama yang ehrgeizig supaya aku yagn menulis karena dia menganggap aku telah mampu menulis surat. Aku sebelumnya sudah pernah menuliskan surat yang didiktekan oleh papa tapi aku merasa surat yang aku tulis terlalu kecil (kertas ABC kecil) dan terlalu pendek, serta tulisanku terlalu kecil. Kekurangan-kekurangan yang aku rasakan pada suratku membuat aku enggan untuk menulis lagi, apalagi yang membacanya Titi yang sekolah di Jerman. Karena sudah lama diminta namun aku tunda terus dan bilang: "tan la, tan la", membuat papa mengatakan sudah lama surat Titi belum dibalas juga nanti tidak enak jadinya. Beberapa kalai diminta akhirnya aku menulis juga.
· Mama yang mendengar bahwa sudah lama surat Titi tidak dibalas, walau aku sudah mulai menulis dia merasa tidak puas juga dan memarahi diriku:
"Ban San ce pe ki teng pun e hiau sia phoi masa papa tale kio le sia, boi hiau. Co kin na ha ni kuan gong". Kata-kata mama itu verwirrt diriku yang masih kecil. Dia tidak memikirkan bahwa aku masih anak kecil sedangkan Ban San itu orang dewasa, seorang mahasiwa yang sekolah di Jerman. Mama itu sungguh primitiv, ambisinya sangat besar namun tidak pernah memikirkan bahwa aku masih anak kecil. Saking ambisinya dia tidak memikirkan bahwa aku ini anak kecil dan Ban San orang dewasa. Yang penting ambisinya terpenuhi auf alle Kosten. Apa yang menimpa diriku itu dia tidak peduli. Yang dia tertarik adalah hasil yang bisa aku bawa/tunjukan.
Erstelldatum 03/08/00 10:55

0 Comments:

Post a Comment

<< Home